Pernah nggak sih, kamu sedang berbicara bahasa Inggris, memaparkan ide-ide di depan orang, lalu ketika selesai kamu malah merasa malu dan ingin memutar waktu hanya karena pelafalan “water” kamu terdengar seperti wa-ter dan bukan woh-ter?
Malu karena aksen adalah puncak dari gunung es masalah-masalah yang dihadapi non-native speakers dalam bertutur bahasa Inggris. Obsesi ini sering disebut dengan Native-Speakerism yaitu sebuah persepsi di mana kita harus terdengar seperti native speaker agar kita bisa dianggap mahir dalam berbahasa. Fenomena ini sering kita temukan di berbagai komunitas bahasa dan juga internet. Di media sosial, banyak kita temukan video tutorial berbahasa Inggris dengan aksen British, dibanjiri komentar netizen yang ingin juga bisa ber-aksen British. Dari komentar-komentar, dapat kita implikasikan bahwa netizen Indonesia lebih memandang British sebagai hallmark dari kemahiran bahasa.
Jebakan Estetika dalam Berbahasa
Fiksasi ini sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, keinginan meniru aksen bisa menjadi motivasi belajar, namun di sisi lain, keinginan ini memicu hambatan psikologis yang besar. Akibatnya, banyak dari kita menghabiskan waktu hanya untuk mengejar estetika keindahan suara dengan menonton tutorial “cara punya aksen British“, sampai kita lupa bahwa bahasa sejatinya adalah sarana komunikasi dan bukan ajang pertunjukan aksen. Kita sering takjub pada mereka yang bicara dengan aksen British atau dalam porsi yang lebih rendah, aksen American dan menganggapnya sebagai “puncak pencapaian tertinggi” dalam penguasaan bahasa, hingga kita melupakan esensi utama: apakah lawan bicara paham dengan apa yang kita maksud?
Obsesi kita dengan aksen ini dikenal sebagai Standard Language Ideology, di mana satu versi bahasa dianggap lebih benar dan berkelas dibanding versi lain. Contohnya, kita sering mengasosiasikan aksen Received Pronunciation (British) dengan kecerdasan dan kefasihan. Sayangnya, ideologi ini membawa konsekuensi negatif; penutur dengan aksen lokal sering dianggap kurang kompeten padahal penguasaan materi mereka sangat baik. Padahal, dewasa ini dunia sudah bergeser, konsep English as a Lingua Franca (ELF) menekankan bahwa standar keberhasilan komunikasi adalah seberapa efektif pesan tersampaikan dalam konteks global, bukan seberapa mirip logat kita dengan orang Inggris.
Hambatan dalam Belajar Bahasa

Fiksasi terhadap aksen yang berlebihan ini juga dapat memicu Foreign Language Anxiety (kecemasan berbahasa asing). Stephen Krashen dalam Principles and Practice in Second Language Acquisition menjelaskan bahwa ketika target utama pembelajar adalah kesempurnaan estetika dan bukan penyampaian makna, otak akan mengaktifkan “filter afektif” yang tinggi. Filter yang muncul karena rasa cemas ini menyebabkan input bahasa tidak dapat diproses dengan efisien dan output (proses berbicara) menjadi terhambat. Sederhananya, filter afektif akan aktif ketika kita merasa stres, cemas, malu, atau tidak percaya diri ketika berbicara dalam bahasa asing. Dampaknya, input bahasa seperti teks dan suara tidak bisa masuk ke bagian otak yang memproses bahasa (Language Acquisition Device), yang berujung pada ketidakmampuan dalam menyusun kalimat secara verbal, padahal secara intelektual kita mampu. Pernah, kan, kamu nervous saat bicara bahasa asing sampai-sampai yang keluar dari mulut hanya yes no yes no saja? Sama!
Pilih Aksen atau Substansi?
Otak manusia berkapasitas working memory (bahasa elektroniknya RAM) yang terbatas. Kajian bottleneck kognitif oleh Levy, Pashler, dan Boer menunjukkan bahwa melakukan dua tugas mental yang menuntut konsentrasi tinggi secara bersamaan akan menurunkan performa secara drastis. Dalam hal ini, apabila penutur menggunakan memori otaknya terlalu banyak untuk memantau posisi lidah, bentuk mulut, dan intonasi demi meniru aksen (monitoring), maka kapasitas otak untuk aspek yang lebih krusial, seperti pemilihan kata yang tepat dan koherensi argumen, justru akan berkurang.
Sejalan dengan hal tersebut, Jennifer Jenkins dalam The Phonology of English as an International Language menegaskan bahwa pembelajar yang fokus pada intelligibility (kejelasan) memiliki keberhasilan komunikasi yang lebih tinggi dibanding mereka yang hanya mengejar imitasi aksen. Jenkins menekankan pentingnya Lingua Franca Core, daftar fitur wajib pelafalan agar lawan bicara kita paham, dengan LFC kita bisa bercakap dalam bahasa Inggris tanpa memandang apakah kita punya aksen Jawa, Sunda, bahkan Spanyol mengingat sebagian besar komunikasi dalam bahasa Inggris saat ini terjadi antar penutur non-native. Dalam konteks global ini, fiksasi pada aksen tertentu justru menjadi penghambat jika tidak dibarengi dengan kejelasan artikulasi. Jenkins menjelaskan bahwa masalah komunikasi lebih sering disebabkan oleh kesalahan pelafalan dasar dan jeda yang tidak tepat, bukan karena penutur memiliki aksen lokal.
Bangga jadi Bangsa Multilingual
Intinya, kita harus ingat bahwa bahasa Inggris hanyalah sebuah alat komunikasi dan bukanlah sebuah kompetisi aksen. Mengukur kecerdasan berdasarkan kemiripan suara dengan native speaker adalah sesuatu yang harus kita hentikan bersama. Kita sering lupa tentang satu fakta luar biasa: mayoritas orang Indonesia adalah individu multilingual yang mampu menguasai setidaknya tiga bahasa (bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris). Kemampuan otak kita untuk beradaptasi dari satu struktur linguistik ke struktur lainnya adalah sebuah pencapaian yang harus kita banggakan.
Oleh karena itu, merasa malu karena aksen lokal adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Aksen lokal yang kita miliki adalah bukti bahwa kita cukup berani untuk menjelajahi dunia di luar batasan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Daripada kita terobsesi pada imitasi aksen, mari kita alihkan fokus pada kejelasan (intelligibility) gagasan saat berbicara bahasa Inggris. So, speak up and be proud of who you are!
Penulis:
Salwa Caesar Ramadhanty Supratman,
Instruktur Ahli Pertama Kejuruan Pariwisata (NIP. 200012162025052005)
Lihat Update Pelatihan dan Informasi Resmi: https://www.instagram.com/bpvp.bandungbarat/
Lihat Postingan Lainnya: Berita Terkini – Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat