Rekanaker, siapa yang tak kenal madu? Cairan alami yang dihasilkan dari proses yang luar biasa. Lebah pekerja keluar di pagi hari untuk mencari nektar dari tumbuhan berbunga, membawanya ke sarang, lalu mengubah nektar bunga dengan enzim menjadi cairan kental dan manis yang kita kenal sebagai madu. Setiap tetes madu merupakan hasil dari perjalanan, kerjasama dan peranan lebah yang menjadikannya salah satu produk alam paling istimewa.
Madu juga dikenal sebagai “Superfood” karena memiliki kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif seperti karbohidrat (terutama fruktosa dan glukosa), enzim, protein, asam-asam amino, asam-asam organik, mineral, hingga vitamin yang tentunya baik dan bermanfaat untuk dikonsumsi.
Madu merupakan hasil alam yang tidak mudah untuk dipanen terus-menerus sepanjang tahun. Hal itulah yang membuat madu memiliki nilai tinggi dalam pasaran. Kondisi ini terkadang dimanfaatkan oleh sebagian produsen atau penjual untuk menghasilkan produk tiruan madu murni menggunakan bahan lain demi menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan dengan harga penjualan yang sama.
Untuk mengetahui kemurnian madu, perlu dilakukan uji laboratorium. Namun, kini banyak beredar metode pengujian sederhana untuk membedakan madu murni dan madu palsu. Benarkah setiap pengujian tersebut dapat menginterpretasikan status dan kualitas madu? Mari kita bedah fakta pengujian madu asli dan madu palsu berdasarkan kajian ilmiah!
Uji Air
“Apabila kita menuangkan madu kedalam segelas air, madu murni akan mengendap dan tidak akan langsung larut, sedangkan madu palsu dapat larut dalam air dengan lebih mudah.”

Faktanya: Madu murni memiliki tingkat kelarutan yang rendah. Hal ini disebabkan oleh sifat madu murni yang memiliki kekentalan atau viskositas tinggi. Viskositas adalah ukuran yang menyatakan tingkat kekentalan suatu cairan. Selain itu, madu murni memiliki komponen – komponen lain dalam madu seperti malam lebah, protein, vitamin, dan mineral yang tidak dimiliki oleh madu palsu atau tiruan, sehingga madu tidak mudah larut dalam air. (Prabowo, 2019).
Meskipun begitu, perlu diperhatikan juga terkait jenis madu yang dikonsumsi. Terkadang, madu dari jenis lebah tertentu seperti lebah Trigona (klanceng) memiliki tekstur yang lebih cair dibanding madu yang dihasilkan oleh lebah Cerana, karena madu dari lebah Trigona memiliki kadar air yang lebih tinggi.
Uji Tes Tisu dan Uji Oles Pada Roti
“Apabila meneteskan madu pada tisu, madu murni tidak akan mudah meresap atau membuat tisu basah, sedangkan madu palsu yang kadar airnya tinggi akan langsung meresap dan menyebar.”
“Apabila mengoleskan madu pada roti, madu murni akan membuat roti tetap kering dan kaku, sementara madu palsu akan membuat roti lembek dan basah”

Faktanya: Madu murni apabila diteteskan pada tisu atau dioleskan pada roti tidak akan membuat tisu/roti tersebut basah. Sama halnya dengan uji larut, hal ini disebabkan oleh tingkat kekentalan madu yang tinggi. Madu memiliki kandungan glukosa dan fruktosa yang cukup tinggi, dimana kandungan glukosa ini berpengaruh pada viskositas madu. Semakin tinggi kadar padatan gula terlarut (oBrix), maka semakin tinggi viskositas suatu larutan (Suyatno, 2022).
Uji Semut
“Jika madu dikerubungi semut, maka madu tersebut bukan madu murni karena diberi tambahan gula”

Faktanya: Dalam proses pembudidayaan lebah madu, justru semut adalah hama bagi ekosistem lebah. Semut mengganggu koloni dengan memakan anakan, polen, atau madu. Artinya, madu murni yang masih berada di sarang pun jadi makanan semut! Jadi, pernyataan diatas belum tentu sepenuhnya benar ya.
Uji Panas
“Saat dipanaskan menggunakan sendok, madu murni tidak akan berbusa dan aromanya tetap harum, bukan berbau gula hangus.”

Faktanya: Buih atau busa saat pemanasan muncul karena gelembung uap air yang terbentuk ketika cairan mendidih. Jadi, hampir semua cairan berair bisa menghasilkan buih, termasuk madu. Pernyataan bahwa madu murni tidak akan berbuih ketika dipanaskan tidak valid ya.
Madu Mengkristal
“Madu palsu akan mengkristal bila disimpan di lemari es”

Faktanya: Justru, madu murni yang memiliki kandungan glukosa yang tinggi akan mengalami kristalisasi. Hal ini dikarenakan kandungan glukosa alami yang tinggi akan mengendap pada suhu rendah. Proses ini normal, bukan tanda kerusakan atau pemalsuan.
Jadi, dari pembahasan di atas, sudah lebih jelas kan mengenai cara – cara sederhana untuk mengecek kemurnian madu? Dari cara – cara tersebut, yuk coba cek madu yang ada di rumah mu!
Alya Rahmaisyanti
Instruktur Kejuruan Peternakan (200011182025052005)
Lihat Update Pelatihan dan Informasi Resmi: https://www.instagram.com/bpvp.bandungbarat/
Lihat Postingan Lainnya: Berita Terkini – Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat
Referensi
Prabowo, S. (2019). Penentuan karakteristik fisiko-kimia beberapa jenis madu menggunakan metode konvensional dan metode kimia. Journal of Tropical AgriFood, 1(2), 66-73.
Suyatno, S., Alhanannasir, A., MZ, R. P. S., Handi, T., & Aprianti, G. E. (2022). Formulasi rasio gula semut dan gula pasir pada pembuatan cuko pempek instan. Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan, 11(1), 1-5.