Selamat datang di era Gig Ekonomi, sebuah masa dimana persepsi akan pekerjaan dan karir: pergi ke kantor, jalur karir yang jelas, gaji tetap, kontrak yang jelas kini telah beralih berubah menjadi sebuah era yang fleksibel namun penuh dengan ketidakpastian.
Gig ekonomi didefinisikan sebagai sistem ekonomi di mana sekelompok orang memperoleh penghasilan dengan melakukan pekerjaan lepas, pekerjaan sampingan, atau tugas-tugas berdasarkan permintaan (on-demand project). Trend gig ekonomi ini bukan soal posisi yang tetap tapi mencari pekerja yang punya adaptasi tinggi dan skill yang relevan di tangah trend bisnis yang dinamis. Kini, satu pertanyaan yang muncul adalah:
“Bagaimana membuat kita tetap relevan di era gig ekonomi saat ini?”
Ada beberapa hal yang menjadi fokus utama:
Transformasi Dunia Kerja di Era AI dan Fleksibilitas
Pola pekerjaan konvensional kini telah bertransformasi menjadi model yang lebih fleksibel dan bersifat project-demand. Hal ini menuntut individu untuk memiliki value personal yang kuat. Jika sebelumnya kombinasi hard skill dan soft skill dianggap cukup, technological skill muncul sebagai salah satu value set kunci di era kerja saat ini. Untuk menjadi tetap relevan dan kompetitif, kita harus memiliki pengetahuan dan kemampuan penggunaan AI yang mumpuni untuk mendukung soft skill and hard skill yang kita miliki.

Banyak dari kita sebelumnya berfokus menjadi seorang specialist, kita berpikir bahwa menguasai satu bidang pekerjaan dengan mendalam akan lebih menguntungkan dibanding menjadi seseorang yang well-rounded (bisa banyak hal). Namun, dengan kondisi pasar kerja dan sistem gig ekonomi yang dinamis saat ini, satu pekerjaan dapat tergantikan oleh AI dengan begitu cepat, bisa dikatakan seseorang dengan kemampuan AI tools dapat membuat sebuah website yang hampir sama bagusnya dengan web developer dengan pengalaman tahunan, hal tersebut dilakukan bermodalkan prompt dan kemampuan teknologi itu sendiri.
Artinya, dengan munculnya AI tools, menempatkan semua orang dalam kemampuan menyelesaikan pekerjaan yang hampir sama dalam berbagai bidang. Berbagai studi global menunjukkan bahwa sekitar 60% pekerjaan baru akan sangat berkaitan dengan pemanfaatan teknologi digital dan AI. Kondisi ini menegaskan bahwa siapapun dari kita perlu memasukkan pemahaman AI dan tools digital sebagai bagian inti dari skill-set.
Individu yang paling adaptif adalah mereka yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu kerja, bukan melihatnya sebagai ancaman. Keinginan untuk mencari tahu dan terus update adalah keharusan agar kita gak “usang” dan ketinggalan.
Dari Kerja Full-time ke Project-demand: Fleksibilitas Kerja dan Peluang Remote
Era gig ekonomi juga berpengaruh besar dalam bagaimana perusahaan melihat dan mengalami tekanan untuk beroperasi secara lebih efisien. Jika banyak dari kita yang masih mengkotak-kotakan pola kerja dan hanya melihat pekerjaan sebagai sebuah hal yang kaku maka kita akan kehilangan berbagai kesempatan untuk berkembang dan mencari peluang. Karena pada dasarnya pekerjaan yang sifatnya project-based dan freelancer telah menjadi pilihan perusahaan untuk operasional yang lebih efisien dan juga memberikan sebuah pilihan untuk pekerja dalam hal fleksibilitas kerja dan penghasilan yang ‘tidak terbatas’
Dalam konteks ini, perusahaan tidak mencari jumlah tenaga kerja terbanyak, melainkan individu yang paling siap dan paling relevan dengan kebutuhan sebuah proyek. Kesiapan tersebut mencakup keahlian teknis, kemampuan bekerja mandiri, kecepatan adaptasi, serta pemahaman terhadap tools digital yang digunakan dalam ekosistem kerja modern. Artinya, individu perlu memposisikan diri sebagai solusi atas kebutuhan spesifik perusahaan.
Fleksibilitas menjadi karakteristik utama dunia kerja saat ini. Individu memiliki keleluasaan lebih besar dalam mengatur cara, waktu, dan lokasi kerja. Pada saat yang sama, perusahaan juga semakin terbuka terhadap model kerja jarak jauh (remote working). Hal ini membuka peluang yang lebih luas, tidak hanya secara lokal tetapi juga global.
Namun, fleksibilitas menuntut kedewasaan profesional. Tanpa sistem kerja yang terstruktur, fleksibilitas justru dapat menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, individu perlu memiliki kemampuan manajemen waktu, disiplin diri, serta pemanfaatan tools digital yang mendukung kolaborasi dan pelaporan kinerja.
Nilai Personal sebagai Fondasi Daya Saing
Pola pekerjaan saat ini membuat hilangnya presepsi “ikan besar di kolam kecil” atau “ikan kecil di kolam besar” seakan-akan kita semua dimasukkan di kolam yang sama, tidak ada si kecil dan si besar. Semua punya kesempatan yang sama besarnya namun juga sejalan dengan persaingan yang seakan-akan tidak lagi terkotak-kotakan.
Di tengah dominasi teknologi dan fleksibilitas kerja, nilai personal (personal values) justru menjadi pembeda utama. Produktivitas, integritas, kemauan untuk terus belajar, dan kemampuan beradaptasi adalah nilai-nilai yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI.
Dalam dunia kerja modern, setiap orang adalah pemasar bagi dirinya sendiri (you are the marketer of yourself). Portofolio digital, jejak profesional di platform daring, serta cara berkomunikasi menjadi sarana utama untuk “menjual diri” secara profesional. Up-skilling dan re-skilling menjadi keharusan, mengingat individu tidak hanya bersaing dengan sesama manusia, tetapi juga dengan kecanggihan tools AI.
Oleh karena itu, membangun sistem kerja yang terukur, memanfaatkan AI secara strategis, serta terus menguatkan nilai personal dengan terus mempelajari kemampuan dari berbagai bidang menjadi hal yang esensial agar tetap relevan.
BPVP Bandung Barat adalah sebuah lembaga pelatihan yang memberikan kemudahan untuk siapapun untuk belajar banyak hal, baik di bidang pariwisata, bisnis, pertanian, peternakan, perikanan dan banyak lainnya. BPVP Bandung Barat adalah jembatan dan salah satu solusi untuk masyarakat yang ingin terus relevan dan meningkatkan daya saing di dunia kerja yang dinamis.

Mengikuti pelatihan di BPVP Bandung Barat menjadi sebuah langkah awal baik untuk up-skilling dan re-skilling agar kamu terus relevan di dunia kerja yang dinamis. Terus pantau dan aktifkan notif instagram BPVP Bandung Barat (@bpvp.bandungbarat) untuk terus mendapatkan informasi terkini mengenai pelatihan.
Penulis
Suci Pebrianti Putri, S.Par.
Instruktur Ahli Pertama Kejuruan Pariwisata (199802182025052007)
Lihat Update Pelatihan dan Informasi Resmi: https://www.instagram.com/bpvp.bandungbarat/
Lihat Postingan Lainnya: Berita Terkini – Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat
Referensi
Afifah, E. (2024). Studi Perbandingan Regulasi Hukum bagi Pekerja Ekonomi Gig di Sektor Transportasi: Indonesia dan California. Jurnal Restorasi Hukum, 7(2), 209-235. doi: [10.14421/tfkj5t58].
Arafat, L. O. A., Pratama, S. D., & Rahadiana, R. (2025). GIG Economy sebagai Sumber Ekonomi Baru Penduduk Kelas Menengah di Jakarta. Jurnal Ekonomi Kependudukan dan Keluarga, 2(1), Artikel 3.
Izzati, N. R., Yuana, S. L., & Adha, I. A. F. (2025, Oktober). Narik Tiap Hari, Hak Perlu Dihargai: Rekomendasi untuk RUU Pekerja Platform Indonesia (Policy Brief). Jakarta:
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Maulid, R. (2025, Juni 25). Dampak AI pada Dunia Freelance dan Gig Economy, Ancaman atau Akselerasi? DQLab.
Nadiar. (2026, Januari 26). Fenomena Gig Economy bagi Peningkatan Kesejahteraan Pekerja. (R. Apridhani, Ed.). RRI.CO.ID.
Natalia, C., & Putranto, F. X. G. F. (2023). Kerentanan Kesejahteraan Gig Worker di Indonesia Pascapandemi. Jurnal Ekonomi Indonesia, 12(2), 173–186.
Nola, L. F. (2025, Maret). Penguatan pelindungan bagi pekerja gig. Singkat: Analisis Strategis terhadap Isu Aktual, XVII(5), 1-6. Jakarta: Pusat Analisis Keparlemenan, Badan Keahlian DPR RI.
Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Ekonomi serabutan. Diakses dari [https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_serabutan].
Permana, M. Y., Izzati, N. R., & Askar, M. W. (2023). Measuring the gig economy in Indonesia: Typology, characteristics, and distribution. Jurnal Manajemen Teknologi, 21(3), 339-358.
International Labour Organization (ILO). (2025). Global case studies of social dialogue on AI and algorithmic management (ILO Working Paper No. 144).